Potensi Pengembangan Kurma di Indonesia, Kandungan Bioaktif dan Manfaat untuk Kesehatan

Potensi Pengembangan Kurma di Indonesia, Kandungan Bioaktif dan Manfaat untuk Kesehatan

Authors

  • Linda Trivana
  • Adhitya Yudha Pradhana
  • Enny Rimita Sembiring

Keywords:

kurma. bioaktif, fenolik,

Abstract

Kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan tanaman palma asal Mesopotamia yang kini tersebar luas di wilayah subtropis dan tropis kering. Buah ini dikenal memiliki nilai gizi tinggi serta kaya senyawa bioaktif sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Artikel ini mengulas potensi gizi, kandungan fitokimia, dinamika kematangan buah, serta peluang pengembangan pangan fungsional dan budi daya kurma di Indonesia. Perkembangan buah kurma melalui fase kimri, khalal, ruthob, dan tamar disertai perubahan komposisi kimia yang signifikan. Kandungan fenolik dan flavonoid tertinggi ditemukan pada fase kimri dan berkurang pada fase tamar. Kurma mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti asam fenolik, flavonoid (kuersetin, katekin, luteolin,
apigenin), tanin, fitosterol, dan karotenoid yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan, antihiperglikemik, antihiperlipidemik, antiinflamasi, dan antikanker sehingga dapat dimanfaatkan untuk pangan fungsional maupun farmasi. Indonesia merupakan salah satu pengimpor kurma terbesar di dunia, karena budi daya domestik menghadapi kendala agroklimat, terutama kelembapan dan curah hujan tinggi yang menyebabkan buah umumnya hanya mencapai fase ruthab. Fenomena El Niño 2023 menunjukkan kemungkinan tercapainya fase tamar di wilayah tertentu, dan daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai prospektif untuk pengembangan kebun kurma. Adanya dukungan teknologi budi daya, pascapanen, dan pengolahan, kurma berpotensi menjadi komoditas pangan fungsional bernilai ekonomi tinggi di Indonesia

References

Downloads

Published

2026-05-25

Issue

Section

Articles