KENARI - Penyakit Unggas Infeksius Coryza
Keywords:
INFERSIUS CORYZA; AVIBACTERIUM PARAGALLINARUM; HAEMOPHILUS PARAGALLINARUM; PENYAKIT UNGGAS; SALURAN PERNAPASAN; AYAM PETELUR; AYAM BROILER; GEJALA KLINIS; DIAGNOSA; PCR; KULTUR BAKTERI; PENGOBATAN ANTIBIOTIK; VAKSINASI; SANITASI KANDANG; KONTAGIUS; MORBIDITAS; MORTALITASAbstract
Artikel ini membahas penyakit Infeksius Coryza pada unggas, yaitu penyakit akut pada saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh infeksi bakteri gram negatif Avibacterium paragallinarum (sebelumnya diklasifikasikan sebagai Haemophilus paragallinarum). Bakteri ini bersifat sangat menular (kontagius) dengan morbiditas mencapai 60-80% dan mortalitas hingga 15% dalam satu flok, serta dapat menyerang unggas segala umur, meskipun unggas dewasa lebih berisiko, terutama pada fase puncak ayam petelur. Penularan terjadi melalui udara, pakan, air minum, pekerja kandang, atau peralatan yang terkontaminasi. Penyakit ini dapat terjadi bersamaan dengan infeksi bakteri lain seperti Mycoplasma gallisepticum, Staphylococcus aureus, Ornithobacterium rhinotracheale, Salmonella enteritica, Pasteurella multocida, E. coli, dan Proteus sp. Gejala klinis meliputi pembengkakan wajah akibat edema pada sinus infraorbitalis, eksudat kental pada sinus, konjungtivitis ringan, batuk, bersin, penurunan konsumsi pakan dan minum, serta penurunan produksi telur pada ayam layer sebesar 10-40%. Diagnosis dapat dilakukan melalui kultur bakteri dan PCR, dengan metode PCR dinilai memberikan hasil yang lebih akurat. Penanganan meliputi pengobatan dengan antibiotik seperti ampisilin, eritromisin, oksitetrasiklin, doksisiklin, neomisin, dan sulfametoksazol-trimetropin, namun streptomisin dan kolistin ditemukan resisten. Tindakan penanganan lainnya adalah memisahkan ayam terinfeksi dan mendisinfeksi peralatan. Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi rutin dengan vaksin killed bivalen serotipe A dan C, serta menjaga sanitasi kandang, suhu, dan kelembaban.