Kajian Kelayakan Finansial Kawasan Agrowisata di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.51589/703wgm87Keywords:
Agrowisata, Kelayakan Finansial, Pengembangan KawasanAbstract
Pembangunan kawasan agrowisata menjadi strategi penting dalam mendorong diversifikasi ekonomi pedesaan serta peningkatan pendapatan masyarakat. Namun, banyak proyek agrowisata tidak melalui analisis kelayakan finansial yang memadai. Studi ini bertujuan membandingkan kelayakan finansial lima kawasan agrowisata di Indonesia melalui analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net B/C Ratio. Penelitian dilakukan pada Juli–Agustus 2025 dengan metode studi literatur. Literatur ditelusuri pada basis data Google Scholar dan ResearchGate menggunakan kata kunci “agrowisata”, “kelayakan finansial”, dan “pengembangan kawasan” pada judul dan abstrak artikel terbitan 2015-2025 berbahasa Indonesia atau Inggris. Setelah seleksi judul, abstrak dan teks penuh berdasarkan relevansi topik dan ketersediaan data empiris, diperoleh lima artikel yang dianalisis. Data yang menjadi kajian diperoleh dari lima agrowisata: De Kampoeng Rembang (Jawa Tengah), Golden Melon (NTB), Kebun Kopi Rakyat (Kalimantan Barat), Kampoeng Rabbit’s (Riau), dan Cibugary Farm (Jakarta Timur). Hasil kajian menunjukkan bahwa seluruh agrowisata layak secara finansial. Seluruh kawasan agrowisata dinyatakan layak secara finansial berdasarkan kriteria NPV, IRR, dan Net B/C. De Kampoeng Rembang (skenario dengan fasilitas restoran) memiliki nilai NPV tertinggi sebesar Rp7.170.972.910, sedangkan Golden Melon memiliki IRR dan Net B/C tertinggi (32,2% dan 3,59). Perbedaan ini sejalan dengan perbedaan discount rate, periode proyek, dan skala investasi pada tiap studi rujukan, sehingga peringkat kelayakan antarkawasan perlu dimaknai secara proporsional dan bukan sebagai perbandingan langsung. Temuan ini memperlihatkan bahwa integrasi antara pertanian organik, edukasi, dan pengelolaan komunitas lokal berkontribusi pada keberhasilan proyek. Studi ini menyimpulkan bahwa model agrowisata yang menggabungkan nilai ekonomi, edukatif, dan sosial memiliki prospek jangka panjang yang kuat. Rekomendasi kebijakan meliputi perlunya kebijakan integratif lintas sektor serta promosi agrowisata berbasis digital untuk memperkuat daya saing kawasan.
Agrotourism area development is an important strategy for promoting rural economic diversification and increasing community income. However, many agrotourism projects proceed without adequate financial feasibility analysis. This study aims to compare the financial feasibility of five agrotourism areas in Indonesia through Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), and Net B/C Ratio analysis. The research was conducted from July to August 2025 using a literature review method. Literature was retrieved from the Google Scholar and ResearchGate databases using the keywords “agrotourism,” “financial feasibility,” and “area development” applied to the titles and abstracts of articles published between 2015 and 2025 in Indonesian or English. After screening titles, abstracts, and full texts for topical relevance and the availability of empirical data, five articles were selected for analysis. The data analyzed were drawn from five agrotourism sites: De Kampoeng Rembang (Central Java), Golden Melon (West Nusa Tenggara), Kebun Kopi Rakyat (West Kalimantan), Kampoeng Rabbit’s (Riau), and Cibugary Farm (East Jakarta). The results show that all five areas are financially feasible based on the NPV, IRR, and Net B/C criteria. De Kampoeng Rembang (restaurant-facility scenario) recorded the highest NPV, at IDR 7,170,972,910, while Golden Melon recorded the highest IRR and Net B/C (32.2% and 3.59, respectively). This variation reflects differences in the discount rate, project period, and investment scale used across the reference studies, so the relative ranking among the five areas should be interpreted proportionally rather than as a direct comparison. These findings indicate that integrating organic farming, education, and local community management contributes to project success. The study concludes that agrotourism models combining economic, educational, and social value have strong long-term prospects. Policy recommendations include cross-sectoral integrative policies and digital-based agrotourism promotion to strengthen regional competitiveness.
References
Gittinger, J. P. (1986). Analisis ekonomi proyek pertanian (Terjemahan). Jakarta: UI Press. (Karya asli diterbitkan 1982)
Hutasoit, J. A., Prasmatiwi, F. E., & Abidin, Z. (2022). Kelayakan Usaha Agrowisata Jeruk Margototo dan Agrowisata Jeruk Sungai Langka di Provinsi Lampung. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 6(4), 1450-1461.
Ifadloh, A. N. (2022). Analisis Studi Kelayakan Bisnis pada Kedai Kopi Ishpot Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Universitas Islam Negeri Prof. KH Saifuddin Zuhri.
Irwandi, P. (2024). Kelayakan Investasi dan Pola Pengembangan UMKM Berbasis Desa Wisata. Jurnal Ilmiah Membangun Desa dan Pertanian, 9(1), 91-104.
Kurniawan, D., & Sari, R. P. (2018). Analisis Kelayakan Investasi Proyek Pengembangan Usaha Menggunakan Metode NPV, IRR, Net B/C dan PP. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 5(2), 112–121.
Lensari, D., Hidayat, Y., & Latief, A. (2021). Analisis Kelayakan Finansial Agroforestri PT. Sumatera Alam Anugerah Sumatera Selatan. Tengkawang: Jurnal Ilmu Kehutanan, 11(2).
Melina, R., Fernandez, F. E., & Nursan, M. (2024). Analisis kepuasan konsumen terhadap golden melon dengan sistem hidroponik di Kawasan Agrowisata Golden Melon Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Agrimansion, 25(1), 50-62.
Maulid,R. (2024). Hubungan Rate Perhitungan NPV Excel. https://dqlab.id/hubungan-rate-perhitungan-npv-excel. Diakses 23 Juli 2025
Mushonnif, M., Al Fajar, A. H., Mudfainna, M., & Syamraeni, S. (2025). Inovasi Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat Agrowisata: Studi Kasus Kampung Flory, Sleman. Journal of Agribusiness and Rural Development (Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Pedesaan), 7(2), 143-154.
Maruf,A. (2025). Pengembangan Agrowisata di Pedesaan: Peluang Ekonomi.yang.Menjanjikan.https:// kuripankidul.desa.id/agrowisata-pedesaan-membuka-gerbang-peluang-dan-kesejahteraan ekonomi/#:~ :text=Agar%20agrowisata%20Kuripan%20Kidul%20dikenal %20luas%2C%20kita, biro%20perjalanan%20untuk%20mempromosikan%20potensi%20agrowisata%20kita. Diakses 23 Juli 2025
Orang Rembang. (2018). De Kampoeng Rembang, Agro Wisata Petik Buah Naga & Edufarm.https://www.orangrembang.com/pariwisata/ de-kampoeng-rembang-agro-wisata.html. Diakses 21 Juli 2025
Priyambudi, A. H. (2021). Determinasi Likuiditas Dan Suku Bunga: Analisis Nilai Perusahaan Dan Return Saham (Literature Review Manajemen Keuangan). Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 2(5), 581-592.
Rahmat, A., Tedjaningsih, T., & Djuliansah, D. (2024). Analisis Kelayakan Finansial dan Sensitivitas Usahatani Buah Naga dengan Penyinaran Ultraviolet. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 10(2), 2583-2591.
Septiana, T. (2022). Strategi pengembangan desa wisata sembalun pasca ditetapkan sebagai agrowisata berbasis masyarakat di Kabupaten Lombok Timur (Doctoral dissertation, UIN Mataram).
Sulistyorini, E., & Pramudyo, A. (2023). Pengaruh Fasilitas, Ragam Layanan dan Kepuasan Pelanggan terhadap Loyalitas Pelanggan Mini’ s Salon Yogyakarta. Jurnal Bisnis, Manajemen, dan Akuntansi, 10(1), 83-91.
Wardi,H. (2025). Sensasi Wisata Agro Petik Golden Melon di Desa Kebon Ayu, Lombok Barat. https://www.panennews.com/pariwisata/ 1681270366/sensasi-wisata-agro-petik-golden-melon-di-desa-kebon-ayu-lombok-barat. Diakses 23 Juli 2025
Yusri, M. (2020). [BUKU] Laporan Kajian Feasibility Studi Pengembangan Agro Wisata Kecamatan Air Putih.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jefri Jitron Karmau, Anggun Safitri, Kiki Windian

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



